Al-Qur’an tulis tangan berusia sekitar 1.5 abad masih terjaga oleh keluarga keturunan seorang ulama di Desa Pesahangan, Kabupaten Cilacap. Mushaf ini ditulis pada masa pasca Perang Jawa, sehingga memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi.
Pada tahun 1825–1830, Pangeran Diponegoro memimpin Perang Jawa melawan kekuasaan kolonial. Setelah perang berakhir, kondisi sosial dan politik di berbagai wilayah Jawa berubah secara signifikan. Tekanan kolonial semakin kuat. Namun demikian, ulama penulis mushaf ini tidak berhenti berdakwah. Sebaliknya, ia memilih jalur pendidikan dan penulisan sebagai bentuk perjuangan.
Kemudian, ia menyalin Al-Qur’an tulis tangan ini secara manual dengan penuh ketelitian. Ia menulis setiap ayat dengan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan. Selain itu, ia menjaga susunan dan keaslian teks sesuai kaidah pada masanya. Dengan demikian, mushaf ini tidak hanya menjadi kitab suci, tetapi juga karya intelektual yang bernilai tinggi.
Warisan Al-Qur’an Tulis Tangan Secara Turun-Temurun
Seiring berjalannya waktu, keluarga keturunannya terus menjaga Al-Qur’an tulis tangan ini dari generasi ke generasi. Bahkan hingga kini, mereka merawatnya sebagai amanah leluhur yang tidak ternilai. KH Dr. Fathul Amin Aziz menegaskan bahwa keluarganya menerima mushaf tersebut dari pendahulunya dan terus mempertahankan keberadaannya.
Sementara itu, sampul anyaman bambu masih melindungi bagian luar mushaf. Walaupun tampil sederhana, sampul tersebut mencerminkan kearifan lokal dan kondisi masyarakat pada abad ke-19. Di sisi lain, kesederhanaan itu justru memperkuat nilai historisnya.
Al-Qur’an Tulis Tangan sebagai Simbol Syiar Islam
Pada abad ke-19, perjuangan tidak selalu berlangsung di medan perang. Sebaliknya, sebagian tokoh memilih jalur ilmu dan dakwah untuk memperkuat iman masyarakat. Ulama penulis Al-Qur’an tulis tangan ini mengambil peran tersebut dan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber kekuatan moral di tengah tekanan zaman.
Kini, usia mushaf semakin bertambah. Kertasnya mulai rapuh dan tintanya perlahan memudar. Meski demikian, keluarga tetap menjaganya dengan penuh tanggung jawab. Oleh sebab itu, Al-Qur’an tulis tangan ini terus menjadi saksi perjalanan sejarah dan keteguhan iman di Pesahangan.
Akhirnya, warisan ini mengajarkan bahwa satu orang dapat memberi pengaruh besar melalui ilmu dan ketekunan. Dengan demikian, semangat perjuangan dan kecintaan terhadap Al-Qur’an tetap hidup hingga hari ini.
